Mengenal Problem Sandwich Generation & Cara Menghindarinya

15 Oktober 2021



Istilah sandwich generation (generasi sandwich) atau generasi “terjepit” sudah sering didengungkan di media sosial. Namun, sebagian dari mereka mungkin tidak terlalu tahu arti dari istilah itu atau bahkan sedang tidak sadar sedang mengalaminya.

Sandwich generation dikenalkan oleh Profesor sekaligus direktur praktikum Universitas Kentucky, Lexington, Amerika Serikat (AS), Dorothy A. Miller pada awal 1980-an. Istilah itu ia keluarkan setelah melihat fenomena beban finansial yang dialami wanita usia 30-40 tahun di AS. Layaknya daging yang terhimpit roti di bagian atas dan bawah, mereka terhimpit beban finansial dan keharusan memenuhi kebutuhan orang tua dan anak. Lambat laun, beban finansial itu juga dirasakan oleh pria di AS dan seluruh dunia.

Dalam jurnal berjudul "The 'Sandwich' Generation: Adult Children of the Aging" (1981), Dorothy mendeskripsikan generasi sandwich sebagai generasi orang dewasa yang harus menanggung hidup orang tua dan juga anak-anak mereka. Sebuah tanggungan hidup yang sangat dekat dengan tekanan keuangan, kesehatan, pendidikan, dan rumah tangga. Dengan beban sebanyak itu, sandwich generation harus rela mengabaikan perawatan untuk diri sendiri atau yang kini biasa disebut sebagai self love.

Memutus rantai sandwich generation memang tidak mudah. Harus ada yang dikorbankan. Misal, mengorbankan sebagian uang dari pos hiburan untuk dialihkan ke dana pensiun, investasi, atau asuransi. Alhasil, frekuensi berwisata/belanja/nongkrong yang biasanya dilakukan setiap minggu harus dikurangi. 

Anda harus konsisten menyisihkan dana untuk keperluan berasuransi, menabung, dan berinvestasi. Ingat, pegawai kantoran biasanya pensiun pada usia 55-60 tahun dan rata-rata angka harapan hidup orang Indonesia mencapai 70-75 tahun. Artinya, ada rentang waktu 10-25 tahun bagi setiap setiap orang untuk hidup tanpa memiliki penghasilan tetap seperti saat masih bekerja.

Saat Anda pensiun, uang yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tentunya jauh lebih besar dari sekarang. Adanya inflasi membuat pengeluaran Rp10 juta per bulan pada 30 tahun mendatang mungkin terasa tidak mewah. Artinya, dengan hidup sederhana sekalipun Anda perlu sekitar Rp10 juta per bulan atau Rp120 juta per tahun untuk biaya hidup.

Bila pengeluaran mencapai Rp100 juta per tahun, berarti Anda butuh uang Rp2 miliar untuk memenuhi kebutuhan hidup sejak pensiun pada usia 55 hingga dan mencapai batas angka harapan hidup orang Indonesia di usia 75 tahun.

Bila tidak memiliki investasi atau tabungan, mustahil Anda memiliki dana sebesar itu. Alhasil, ada kemungkinan Anda meminta uang dari anak. Termasuk bila sewaktu-waktu butuh biaya perawatan di rumah sakit.

Investasi Jangka Panjang agar Keuangan Masa Tua Aman

Reksa dana merupakan salah satu instrumen investasi yang bisa digunakan sebagai investasi jangka panjang sekaligus memutus rantai sandwich generation. Dibanding instrumen investasi lainnya, investasi reksa dana dianggap paling  'aman' dan mudah untuk investor pemula. Karena yang mengelola reksa dana adalah Manager Investasi (MI) yang sudah tersertifikasi dan memang ahli di bidangnya.

Berinvestasi di reksa dana terasa makin mudah karena dapat dilakukan dengan modal Rp100 ribu.  Nantinya, dana yang disetorkan akan dikelola oleh MI sehingga Anda tidak perlu ikut mengamati dan menganalisis pasar saham yang rumit. MI yang mengelola investasi reksa dana Anda telah tersertifikasi dan mendapatkan izin di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jangan hanya bermimpi untuk bahagia dan sejahtera pada hari tua serta memutus rantai sandwich generation. Yuk siapkan dana pensiun Anda dari sekarang. Dengan berasuransi, menabung, dan investasi jangka panjang, Anda sudah melakukan langkah tepat untuk mewujudkan masa pensiun yang tenang dan anak terbebas dari belenggu rantai sandwich generation.

#bulaninklusikeuangan
#bulaninklusikeuangan2021
#LebihMemahamiAsuransi

Butuh bantuan ?