Jogging Bisa Menjadi Olahraga Mahal, Lho Kok Bisa?

20 Januari 2021



Olahraga adalah kegiatan yang menyenangkan dan seru. Saking serunya, olahraga terutama jogging menjadi tren di kalangan anak muda Indonesia. Buktinya, komunitas pencinta lari mulai bermunculan. Lomba-lomba lari dari tingkat amatir hingga profesional juga makin marak dalam beberapa tahun terakhir. 
Tren jogging juga makin meningkat seiring pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama pandemi covid-19. 

"Olahraga punya banyak manfaat. Kalau buat saya awalnya ya agar semakin sehat dan tetap kurus. Namun setelah sekian lama berolahraga, saya mulai merasa pikiran jadi fresh dan menimbulkan perasaan happy. Jadi tidak heran semua orang senang berolahraga," ujar salah satu artis Indonesia dan penggiat olahraga jogging, Soraya Larasti dalam talk show bersama Donna Agnesia di "Sequis Talk".

"Saya juga sering ikut lomba lari. Awalnya hanya 5k. Lalu lama-lama 'naik kelas' ke kategori 10k, 21k, hingga ke 42k (full marathon). Saya pernah lomba lari marathon di Tokyo, Jepang. Ada niat untuk mencoba di negara-negara lainnya,” tambah Soraya.

Namun di balik keseruannya, berolahraga tetap mengandung risiko, salah satunya cedera. Sebuah risiko yang harus disikapi dengan serius karena biaya pengobatannya tidaklah murah. Bila tidak ada proteksi diri, olahraga yang seharusnya menyenangkan malah bisa membuat Anda menguras kocek besar akibat risiko cedera.

Soraya sadar mengenai hal itu. Bahkan, dia pernah mengalami cedera yang lumayan parah sehingga harus istirahat dua minggu dan menjalani perawatan fisioterapi. "Pengalaman cedera udah sangat banyak. Apalagi pas awal-awal menggeluti olahraga ini. Nah penyebabnya adalah salah memilih sepatu. Kaki jadi bengkak dan nyeri hingga kesulitan untuk berjalan. Penyembuhan sampai dua minggu," cerita perempuan kelahiran Jakarta tersebut,” kenangnya.

Beberapa teman Soraya juga ada yang pernah mengalami cedera lutut. Dan biasanya, biaya pengobatannya bisa sangat mahal. "Kalau sudah sampai cedera lutut, biaya pengobatan dari puluhan hingga ratusan juta," tegas Soraya.

Olahraga memang bak dua sisi mata uang. Di satu sisi bisa menyehatkan. Namun di sisi lainnya, berolahraga juga "dekat" dengan cedera. Apalagi bila dilakukan dengan cara yang salah. Jadi, akan lebih baik bila masyarakat yang hobi berolahraga juga diproteksi dengan asuransi. Dengan begitu, uang tabungan tidak akan terkuras ketika hal tidak terduga terjadi seperti keharusan mengeluarkan biaya pengobatan cedera.

"Pilih asuransi kesehatan yang bisa menanggung hingga ke biaya fisioterapi. Nah kebetulan, Sequis Life memiliki produk yang mendukung untuk itu, yakni Sequis Q Infinite MedCare Rider. Produk tersebut meng-cover semua biaya kesehatan termasuk sampai ke fisioterapi. Jadi, nasabah bisa fokus ke pemulihan tanpa memikirkan biaya," terang Donna Agnesia, Brand Ambassador & Insurance Counselor Sequis.

Olahraga menjadi kegiatan wajib yang dilakukan masyarakat di tengah pandemi covid-19. Namun, menjalankan gaya hidup sehat tetap memiliki risiko yang tidak terduga. Itulah yang perlu diantisipasi. Sequis Q Infinite Medcare Rider merupakan salah satu solusi perlindungan menyeluruh yang dapat membantu Anda mendapatkan akses pengobatan terbaik di rumah sakit di seluruh dunia.

Butuh bantuan ?