Bongkar Mitos Covid-19 & Bagaimana Melawannya?


Pandemi global virus Corona (Covid-19) telah mengubah hidup masyarakat Indonesia


Pandemi global virus Corona (Covid-19) telah mengubah hidup masyarakat Indonesia. Kini, masyarakat harus dibiasakan untuk belajar tentang jarak sosial dan fisik (social and physical distancing). Hal itu sejalan dengan peraturan Pemerintah agar masyarakat membatasi segala aktivitas yang mencakup pekerjaan, pendidikan, dan ibadah untuk dilakukan dari rumah (Work from Home). Tujuannya agar meminimalkan penyebaran Covid-19. Pemerintah juga memberlakukan karantina mandiri hingga menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).  

Di tengah situasi ini, Sequis dan Kantor Berita Radio (KBR) turut menghadirkan beragam informasi untuk mengedukasi masyarakat selama masa pandemi Covid-19. Salah satunya melalui podcast Life in The Time of Corona dengan tema podcast episode pertama yang mengangkat topik “Bongkar Mitos Corona & Bagaimana Melawannya?” yang menghadirkan narasumber dr Handrawan Nadasul, seorang dokter, motivator, dan penulis buku-buku kesehatan terkemuka. 

Pada episode perdana, dr Handrawan memberikan penjelasan mengenai  mitos-mitos terkait virus Corona (Covid-19); asal muasal virus Corona (Covie-19), bagaimana proses masuk virus ini ke Indonesia, apa saja yang harus masyarakat pahami agar tidak terpapar, dan bagaimana caranya untuk tetap sehat selama masa pandemi ini. 

Satu hal yang ditegaskan dr Handrawan, penularan virus Covid-19 tidak mengenal umur. Alhasil masyarakat berusia anak di bawah umur, dewasa, dan lansia harus waspada. Penerapan jarak sosial dan fisik terutama di ruang publik wajib dilakukan agar mengurangi potensi terpapar virus Covid-19. 

“Jika 1 orang saja yang positif Covid-19 pergi ke ruang publik berarti sudah berpotensi menularkan virus ke 5-10 orang di sekitarnya. Bila orang tersebut berpindah lokasi ke titik lain berarti akan ada 5-10 orang tambahan lagi yang berpotensi tertular. Dari kasus Covid-19 pertama yang terjadi di Indonesia, setelah ditelusuri ternyata sampai ada sekitar 80 orang yang terdampak. Padahal itu hanya 2 kasus awalnya. Sementara dari setiap orang dari 80 orang tersebut akan ada 5-10 orang yang terdampak. Gambaran tersebut yang harus ditanamkan dalam benak masyarakat bahwa mereka harus menghindari aktivitas di tempat keramaian seperti ruang publik untuk keselamatan nyawa dirinya sendiri dan orang lain,” tegas dr Handrawan. 

Oleh karenanya ia meminta secara tegas agar masyarakat mengikuti anjuran kesehatan dari pemerintah, menerapkan jarak sosial serta fisik, dan selalu mengenakan masker sebelum beraktivitas di ruang publik. 

Tak lupa, Ia juga berusaha meluruskan mitos-mitos yang beredar di masyarakat selama pandemic Covid-19 sekarang ini. Di antaranya mitos mandi air panas agar terhindar dari virus Covid-19. Menurutnya, itu salah kaprah dan belum dapat dibuktikan secara medis. Namun, ia membenarkan mengenai mitos manfaat mengonsumsi ramuan tradisional. Dengan catatan, jamu dikonsumsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Bila ternyata seseorang sudah positif terkena Covid-19, jamu saja tidak akan cukup untuk mengobati Covid-19 sehingga kita tetap harus memeriksakan diri ke dokter. 

Pada akhirnya, kegiatan menghentikan penyebaran virus membutuhkan upaya keras semua pihak dan dr Handrawan mengingatkan agar masyarakat tidak perlu panik. Potensi sembuh dari virus Covid-19 akan tinggi bila imun tubuh kita kuat. Oleh karena itu, mari bangun kewaspadaan dengan tidak menganggap remeh virus ini dengan cara menjaga kesehatan dan memeriksakan diri ke dokter bila sudah mengalami gejala Covid-19.

Bila ingin mendengarkan informasi lebih lanjut mengenai mitos Corona dan penjelasan dr Handrawan, Anda dapat mendengarkannya lebih lanjut melalui podcast Life in The Time of Corona yang tersedia di website kbrprime.id, aplikasi Spotify, Anchor, Breaker, Overcast, Pocket Casts, dan Radio Public (search: KBR Prime).

Butuh bantuan ?