Mitos yang Pernah Beredar Mengenai Covid-19

11 Januari 2021



Sudah hampir satu tahun Indonesia dilanda pandemi covid-19. Sejak awal kemunculannya, banyak sekali berita mengenai virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, China tersebut. Bahkan, sampai ada muncul mitos-mitos yang menyesatkan.  Apa saja mitos-mitos tersebut? Berikut yang sudah dirangkum dari situs resmi WHO.

Mitos: Sinar matahari bisa membunuh virus corona karena mengandung ultraviolet
Fakta: Belum ada pernyataan dari ahli bahwa sinar ultraviolet bisa mematikan corona. Sejauh ini, informasi terkonfirmasi yang sudah disebarluaskan adalah sinar matahari berguna untuk memproduksi vitamin D di dalam tubuh yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan virus.

Mitos: Seseorang dengan suhu tubuh di atas 37,5 derajat celsius pasti positif terjangkit covid dan di bawah 37,5 derajat celsius sudah pasti negatif corona
Fakta: Suhu tubuh tinggi atau demam (umumnya mencapai 38 derajat celsius atau lebih) hanyalah salah satu gejala yang mencerminkan bahwa tubuh sedang berjuang melawan adanya virus. Untuk memastikan seseorang terjangkit virus corona atau bukan adalah dengan swab/pcr test.

Mitos: Covid-19 pasti bisa menular lewat paket kiriman
Fakta: Virus covid-19 memang berpotensi menempel di permukaan benda. Namun, virus hanya akan hidup dalam jangka waktu tertentu. Jadi, sebaiknya buka paket di luar rumah, semprot paket dengan disinfektan, langsung buang kardus kemasan, dan segera cuci tangan dengan air dan sabun setelah membuka paket.

Mitos: Pasien covid-19 yang berusia muda hanya perlu isolasi diri di rumah hingga pulih
Fakta: Virus covid-19 tidak memandang usia. Isolasi diri secara mandiri bisa dilakukan bila seseorang mengalami gejala tidak berat dan melakukan isolasi sesuai dengan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Tetapi jika gejala berat sampai sesak nafas misalnya maka harus mendapatkan perawatan dengan peralatan yang memadai.

Mitos: Orang tidak bisa kena virus covid-19 lebih dari sekali
Fakta: Seseorang masih memiliki potensi terjangkit kembali setelah sembuh, meski kemungkinannya lebih kecil.

Butuh bantuan ?